Perang Griliya Komunikasi
Apabila kita ingin mengukur kekuatan politik sebuah Negara—kita hanya perlu mencari informasi tentang angkatan bersenjata dan polisi saja. Tetapi desawa ini, kita hanya akan menemukan jenderal fasis yang melakukan kudeta menggunakan tank baja lengkap dengan pasukan bersenjata hanya pada Negara terbelakang saja. Kerena apabila suatu Negara telah mencapai tingkat industrialisasi tinggi, maka strategi akan merubah semua skenario yang ada. Karena sehari setelah kejatuhan Khrushchev, editor, kepala radio dan televisi dicopot dan diganti; sangat kontradiktif karena tidak mengerahkan tentara. Saat ini, Negara dikuasai oleh orang-orang yang mengkontrol komunikasi.
Saat ini, tidak hanya para akademisi komunikasi, tapi juga kita sebagai masyarakat pada umumnya “aware” bahwa kita sedang hidup di era komunikasi (age of comunication). Sebagaimana dengan apa yang telah digagas oleh Profesor Marshall McLuhan, informasi tidak lagi menjadi salah atu instrumen untuk mereproduksi ekonomi perdagangan, tetapi justru menjelmakan diri menjadikan dirinya sebagai “komandan” dari segenap barang komersial. Sehingga dalam cara pandang ini, komunikasi telah ter-rekonstruksi sebagai industri berat. Pada saat kekuasaan ekonomi beralih dari tangan-tangan yang menguasai modal dan alat produuksi kepada berbagai pihak yang tidak hanya menguasai media informasi, namun sekaligus menguasai modalitas produksi.
Apa yang telah menjadikan surat kabar sebagai sesuatu yang menakutkan, tidak hanya kekuatan ekonomi dan politik yang menjalankannya. Semenjak kelahirannya, surat kabar telah terpetakan sebagai sebuah media untuk menggiring dan mengkondisikan opini publik. Setiap hari, dimana seseorang harus menulis sebanyak mungkin berita yang dapat ditampung sesuai jatah kolom yang tersedia, dan tulisan harus diramu untuk paling tidak dapat menyapa konsumennya di seluruh negeri yang memiliki pluralitas selara, pendidikan serta tingkat ekonomi, maka pada saat yang bersamaan kebebasan penulis dalam berekspresi telah berakhir (the dead of author). Dimana isi pesan tidak akan tergantung kepada sang penulis, melainkan terhadap karakteristik teknis dan sosiologis dari media sendiri.
Sehingga dalam konteks diatas, “media masa tidak menyebarkan ideologi; melainkan media masa itu sendiri merupakan sebuah ideologi.” Yang dalam posisi ini didefinisikan sebagai “apocalyptic” dalam bukunya Umberto Eco disiratkan argument-argumen lebih jauh tentang hal ini; tanpa perduli apapun yang akan dikatakan dan terjadi terhadap jejaring komunikasi masa; pada saat penerima “dikepung” oleh komunikasi yang datang bertindihan sekaligus dalam berbagai jejaring pada saat yang bersamaan, dan dalam sebuah format yang telah diramu sedemikiann rupa sebelumnya, maka yang terjadi sebenarnya adalah bahwa watak dasar dari seluruh disparitas informasi ini tidak akan cukup memberikan dampak yang signifikan. Dan yang menjadi hal terpenting adalah keseragaman informasi yang datang membombardir secara seragam dan gradual, dimana muatan yang berbeda-beda ini dipukul rata dan kehilangan perbedaannya.
Tidak pelak lagi, kita akan mengatakan bahwa kejadian hal ini merupakan sebuah posisi yang pernah dikatakan Profesor Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media. Dimana keyakinan Profesor Marshall McLuhan dalam hal ini kita sebut sebagai apocalyptic; dalam kondisi bebas dari muatan komunikasi, yang secara tidak disadari yang terjadi hanyalah konsumen media massa sedang menerima kuiah ideologi global, suatu himbauan kepada kepasifan “narkotis”. (dikala media massa berjaya, umat manusia binasa).
Namun kontrasnya, Profesor Marshall McLuhan mengamabil sebuah hipotesis yang disusun dari premis yang sama, yaitu bahwa pada saat media massa mengalami kegemilangannya, manusia mengalami kematian, dan seorang manusia baru terlahir. Seorang manusia yang terbiasa untuk memandang dunia dengan cara dan perspektif lain.
Wajarnya, terdapat pendidik yang memberikan sebuah contoh optimisme sederhana, yang diturunkan dari wilayah “Enlightenment”. Mereka memiliki kepercayaan yang kukuh akan kekuatan dari muatan pesan. Mereka yakin bahwa muatan-muatan ini dapat mempengaruhi transformasi kesadaran dengan cara melakukan transformasi program-program televisi. Meningkatkan intensitas kejujuran dalam spot periklanan (tarif provider seluler.red), ketetapan berita pada kolom-kolom surat kabar. Dst.
Filed under: Uncategorized | No Comments »