Perang Griliya Komunikasi

Apabila kita ingin mengukur kekuatan politik sebuah Negara—kita hanya perlu mencari informasi tentang angkatan bersenjata dan polisi saja. Tetapi desawa ini, kita hanya akan menemukan jenderal fasis yang melakukan kudeta menggunakan tank baja lengkap dengan pasukan bersenjata hanya pada Negara terbelakang saja. Kerena apabila suatu Negara telah mencapai tingkat industrialisasi tinggi, maka strategi akan merubah semua skenario yang ada. Karena sehari setelah kejatuhan Khrushchev, editor, kepala radio dan televisi dicopot dan diganti; sangat kontradiktif karena tidak mengerahkan tentara. Saat ini, Negara dikuasai oleh orang-orang yang mengkontrol komunikasi.

Saat ini, tidak hanya para akademisi komunikasi, tapi juga kita sebagai masyarakat pada umumnya “aware” bahwa kita sedang hidup di era komunikasi (age of comunication). Sebagaimana dengan apa yang telah digagas oleh Profesor Marshall McLuhan, informasi tidak lagi menjadi salah atu instrumen untuk mereproduksi ekonomi perdagangan, tetapi justru menjelmakan diri menjadikan dirinya sebagai “komandan” dari segenap barang komersial. Sehingga dalam cara pandang ini, komunikasi telah ter-rekonstruksi sebagai industri berat. Pada saat kekuasaan ekonomi beralih dari tangan-tangan yang menguasai modal dan alat produuksi kepada berbagai pihak yang tidak hanya menguasai media informasi, namun sekaligus menguasai modalitas produksi.

Apa yang telah menjadikan surat kabar sebagai sesuatu yang menakutkan, tidak hanya kekuatan ekonomi dan politik yang menjalankannya. Semenjak kelahirannya, surat kabar telah terpetakan sebagai sebuah media untuk menggiring dan mengkondisikan opini publik. Setiap hari, dimana seseorang harus menulis sebanyak mungkin berita yang dapat ditampung sesuai jatah kolom yang tersedia, dan tulisan harus diramu untuk paling tidak dapat menyapa konsumennya di seluruh negeri yang memiliki pluralitas selara, pendidikan serta tingkat ekonomi, maka pada saat yang bersamaan kebebasan penulis dalam berekspresi telah berakhir (the dead of author). Dimana isi pesan tidak akan tergantung kepada sang penulis, melainkan terhadap karakteristik teknis dan sosiologis dari media sendiri.

Sehingga dalam konteks diatas, “media masa tidak menyebarkan ideologi; melainkan media masa itu sendiri merupakan sebuah ideologi.” Yang dalam posisi ini didefinisikan sebagai “apocalyptic” dalam bukunya Umberto Eco disiratkan argument-argumen lebih jauh tentang hal ini; tanpa perduli apapun yang akan dikatakan dan terjadi terhadap jejaring komunikasi masa; pada saat penerima “dikepung” oleh komunikasi yang datang bertindihan sekaligus dalam berbagai jejaring pada saat yang bersamaan, dan dalam sebuah format yang telah diramu sedemikiann rupa sebelumnya, maka yang terjadi sebenarnya adalah bahwa watak dasar dari seluruh disparitas informasi ini tidak akan cukup memberikan dampak yang signifikan. Dan yang menjadi hal terpenting adalah keseragaman informasi yang datang membombardir secara seragam dan gradual, dimana muatan yang berbeda-beda ini dipukul rata dan kehilangan perbedaannya.

Tidak pelak lagi, kita akan mengatakan bahwa kejadian hal ini merupakan  sebuah posisi yang pernah dikatakan Profesor Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media. Dimana keyakinan Profesor Marshall McLuhan dalam hal ini kita sebut sebagai apocalyptic; dalam kondisi bebas dari muatan komunikasi, yang secara tidak disadari yang terjadi hanyalah konsumen media massa sedang menerima kuiah ideologi global, suatu himbauan kepada kepasifan “narkotis”. (dikala media massa berjaya, umat manusia binasa).

Namun kontrasnya, Profesor Marshall McLuhan mengamabil sebuah hipotesis yang disusun dari premis yang sama, yaitu bahwa pada saat media massa mengalami kegemilangannya, manusia mengalami kematian, dan seorang manusia baru terlahir. Seorang manusia yang terbiasa untuk memandang dunia dengan cara dan perspektif lain.

Wajarnya, terdapat pendidik yang memberikan sebuah contoh optimisme sederhana, yang diturunkan dari wilayah “Enlightenment”. Mereka memiliki kepercayaan yang kukuh akan kekuatan dari muatan pesan. Mereka yakin bahwa muatan-muatan ini dapat mempengaruhi transformasi kesadaran dengan cara melakukan transformasi program-program televisi. Meningkatkan intensitas kejujuran dalam spot periklanan (tarif provider seluler.red), ketetapan berita pada kolom-kolom surat kabar. Dst.

Artefak Muslim Kontemporer

Baru-baru ini semangat spiritualisme ternyata mengalami polesan yang amat sangat canggih dalam budaya konsumerisasi. paling tidak penulis melihat kebangkitan semangat ini muncul pada level simbolistik, tanda-tanda dan ikon yang diyakini sebagi sebuah “artefak kemusliman seseorang” yang justru sedikit demi sedikit telah terkomodifikasi menjadi objek konsumsi. sebagai contoh dan mungkin seyogyanya hal ini sudah menjadi kebudayaan  bahwa hari-hari raya keagamaan (Iedul Fitri, yang walaupun masih kurang lebih 3 bulanan lagi) bagi sebahagian orang bisa berubah menjadi semacam “festival konsumsi,” dimuali dari makanan hingga semangat pergantian mode dan fashion dalam tata busana.  Yang celakanya hal ini dianggap oleh industri iklan dan televisi sebagai sebuah peluang keuntungan bisnis semata. yang dalam konteks ini kebangkitan semangat keagamaan pada level dan kalangan tertentu harus kita fahami sebagai kebangkitan gaya hidup.

Dalam 8 tahun terakhir misalnya dikalangan umat Islam, mulai marak iklan dan industri jasa yang menawarkan “wisata religius,” “paket spirituaisme dan sufisme,” melaksanakan umrah dengan seorang ‘kiayi beken,’ berdirinya sekolah-sekolah yang berlabelkan Islam Terpadu (IT) yang mahal, kafe khusus muslim, manjamurnya konter-konter berlabelkan Exclusive Islamic Fashion, kegandrungan kelas menengah atas akan Moslem Fashion Show dan berdirinya  pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan sensibilitas keagamaan untuk keuntungan bisnis.[1] Sementara meraknya penerbitan majalah anak muda islam (khususnya Muslimah) nyaris tidak jauh berbeda dengan majalah anak muda pada umumya. yang ditawarkan didalamnya adalah mode, shopping, soal gaul dan berhubungan lawan jenis yang pengelolaannya ‘dianggap islami.’ slogan yang ditawarkan sebagai kalimat persuasif pun seperti halnya fantasi muda-mudi kelas menengah pada umumnya: Jadilah Muslimah yang Gaul dan Smart; Jadilah Muslimah yang Cerdas, Dinamis, dan Trendi atau Jadilah Cewek Muslimah yang Proaktif dan Ngerti fashion!

Penulis melihat, dalam cara pandang ini sebenarnya ‘kita’ tengah ditanamkan sebuah ideologi yang samar-samar mulai terbentuk; beragama tapi tetap trendi atau biar religius tapi tetap modis. Rupanya para pemikir keagamaan mutakhir harus mulai berfikir bahwa, sensibilitas keagamaan pun mulai mengalami komodifikasi pada pentas konsumsi massa. Ketika baju koko, gamis, kerudung, jilbab (dengan berbagai model, corak dan warna yang ditawarkan) kian menjadi salah satu ikon dalam fashion. dan mulai menggeliat sebagai sebuah bisnis besar, penulis melihat dikalangan tertentu muncul upaya disadari atau tidak untuk memberikan label “islamisasi dalam perilaku konsumtif didunia mode dan shopping. padahal mungkin yang sebenarnya terjadi ialah “kapitalisasi islam” atau penaklukan semangat keagamaan oleh kekuatan pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri.

To be Continue………….



[1]    Untuk menunjukan feomena ini misalnya, di Bandung pada tanggal 4 Oktober 2003 dibuka “Moslem’s Shopping Centre” (kenapa namanya tidak bahasa Indonesia saja atau mungkin menggunakan bahasa Arab Sekalian?) yang teks selanjutnya dari spanduk itu mengklaim bahwa “Pertama dan Terlengkap di Indonesia.” dalam posisi ini, Umat Islam ditempatkan sebagai pangsa pasar yang sangat potensial. Belum lagi ketika kita melihat sekarang menjamurnya konter, butik dan juga rumah mode yang menjual busana muslim dan muslimah yang tergolong sangat mahal, mulai harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. kerudung yang dahulunya hanya dipergunakan oelh segelintir kaum muslimah atau lebih ekstrim lagi bahwa kerudung yang dahulunya hanya dianggap sebagai pakaian yang dipergunakan remaja puteri dari kaum sarungan yang ada di pesantren. kini justru mencapai status elitis dan modis ketika para istri dan anak-anak pejabat, pengusaha, dan artsi berbondong-bondong mengenakannya.

TTM (Tulisan Tengah Malam)

I can’t solve any problem!!!

Kadang aku sangat tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi belakangan ini, suatu ketika aku merasakan kebahagian bisa melaksankan proese Tugas Akhir bersama seorang śyeikh[u]tecture’ tepat sesuai dengan perencanaan awal studiku, tapi lantas kemudian kebahagian itu hilang bak sebuah meteor yang jatuh ke lapisan atmosfir bumi tanpa tersisa, sedih, pilu dan tak pelak itu membuat hatiku gusar dan tidak merasa enjoyed (karena sudah saking pusingnya, dan celakanya disarankan untuk bisa menikmati kepusingan yang sedang saya alami?) untuk terus melaksanakan Tugas Akhir ini.

Tidak ada seseorangpun di dunia ini yang menghendaki kejaian diatas terhadap individunya masing-masing, sayangnya kadang pilihan itu tidak malah akan memudahkan kita dalam menarik sebuah benang merah dalam kejadian. Tapi malah lebih sering pilihan itu akan menyulitkan kehidupan kita dikemudian hari nantinya.

Aneh rasanya, sesuatu yang pada awalnya aku cita-citakan ternyata secara tidak disadari telah menggiring terhadap sebuah pembuktian bahwa kemampuan aku didalam hal menyelesaikan masalah yang diangkat pada Tugas Akhirku belum terlalu mempuni. sehingga tak heran kalau didalamnya akan banyak sekali bumbu kebingungan dan ke-absurd-an dikarenakan komtentensi aku yang memeng belum sampai kearah yang diharapkan.

Tugas Akhir adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan tenaga, pemikiran, pemikiran, pemikiran, pemikiran, pemikiran, hati, bahkan perasaan sekalipun. Yang kadang-kadang sebagai seseorang manusia yang memiliki idealisme akan di-push oleh ego masing-masing dan cendeerung akan dihadapkan kepada dua pilihan, TA must go on or Give-up?

Lucu jadinya, ketika menulis; membaca; menulis; membaca; memaknai; dan menyimpulkan adalah kata-kata yang memang harus diejawantahkan dalam manifesto proses perjalanan pelaksanaan Tugas Akhir. Gampang diucapkan bak membalikan telapak tangan, tetapi realisasi dari kesemua itu memerlukan sebuah pegorbanan kebiasaan anteng kiritan yang besar atas dasar sebuah pencapaian mimpi yang besar yang akan didapatkan.

Kadang suatu ketika aku membayangkan otakku adalah sebuah hardisk yang pada waktu tertentu aku dapat melakukan reset atau memformat junc-file yang centang-perenang melilit di benak ini, yang kadang bahkan sering ingin kulupakan dalam kehidupan ini (apalagi virus-virus yang melemahkan pembangunan teori untuk TA). Karena aku hanyalah manusia biasa yang mempunya batas kulminasi terhadap sesuatu apapun sifatnya. Jika dianalogikan sebagai sebuah komputer, rasanya hardisk ini sudah tidak tersinkronisasi dengan komponen lainnya. Sehingga perlu dilakukan format ulang agar komputer tersebut bisa berjalan mulus kembali.

Apa daya ternyata format ulang adalah sebuah solusi pelarian dari masalah atau virus yang dihadapi ketika kata format ulang itu kita kaitkan didalam kehidupan manusia. Pencapaian sebuah idealisme yang diharapkan dengan mengorbankan banyak sekali dokumen bahkan program yang telah ter-install pada hardisk kita.

Tugas Akhir lebih liar dari pada hutan amazon, lebih panas daripada gurun sahara, dan lebih dingin daripada antartika. Tetapi akan menjadi sangat kontradiktif ketika kita berlaku keras terhadap proses yang kita jalani yang kesemuanya diluar prediksi (unpredictable) yang rasional, diluar perhitungan logaritma atau bahkan hitungan kalkulus sekalipun. Bagaikan sebuah lukisan abstrak liquid sculpture yang perlu pemahaman dalam mencerna informasi yang melintasi proses perjalanan Tugas Akhir ini.

Sehingga konteks Antitesis dalam menyikapi Tugas Akhir hanya berlaku bagi orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai sebab dari kesemua yang ada dibumi ini; sebagai sebuah jejaring teori evolusi; bahkan conjecture tentang masa depan pergantian abad dan abad selanjutnya. Magis; ilmiah; rasional; irasional; hitam; putih; baik; buruk adalah sebuah kata yang lebih diterminologikan sebagai sesuatu yang bisa terukur (measurable). Tetapi lantas Tugas Akhir ternyata menyuguhkan wilayah abu-abu yang ternyata berada diluar opisisi biner dan tugas para pelaksana Tugas Akhir ialah menghitamkan atau mungkin memputihkan area abu-abu yang kita angkat sebagai masalah di Tuugas Akhir ini.

I’m Confused, confused and confused….

any help me???

Kota, Sebuah Magnet Harapakan Kah?

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Un-Habit terdapat kecendenderungan peningkatan migrasi penduduk jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Adalah sebuah kenyataan bahwa fakta yang telah didapatkan bahwa aktifitas migrasi telah berimplikasi pada pengembangan kota yang “liar”. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan kota dalam upayanya menampung luapan migrasi penduduk yang datang. Sehingga yang kemudian terjadi adalah terciptanya slum area yang centang-perenang pada tata kota secara keseluruhan yang kadang lebih bersifat formal dan terencana. pada kasus tertentu hal ini telah memberikan dampak yang berbeda dan kadang lebih sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang lebih bersifat menganggu kondisi visual.

Apa yang telah terjadi diatas dipandang oleh penulis sebagai sebuah reaksi alamiah yang kita sebut dengan “Thermothotop” yaitu sebuah keadaan dimana orang akan berkumpul disebabkan adanya cahaya yang benderang dan kehangatan yang ditawarkan terhadap lingkungan yang “muram”. Yang pada contoh sederhana dapat kita analogikan sebagai binatang laron yang akan berkumpul pada lampu neon atau mungkin kita yang akan berkumpul pada penerangan darurat (lilin, etc) ketika terjadi pemadaman lampu (seperti yang terjadi semalam, demi keperdulian terhadap bumi ada kampanye mematikan lampu dan semua peralatan yang kita pakai menggunakan energy listrik selama satu jam, dan akhirnya lilin jadi salah satu solusi dan dengan asyiknya serta tanpa disadari kami berkumpul mendekati lilin tersebut).

Secara alamiah hal itu terjadi pada proses akumulasi migrasi penduduk yang terjadi akhir-akhir ini. Dimana sebuah dunia luar yang menawarkan sesuatu yang “wah”; hingar-bingar; terang-benderang; terprediksikan melalui rasionalisasi (imaging); nyaman dalam tatanan visual dan menjanjikan hal yang sebelumnya telah menjadi impian. Adalah hal yang kemudian akan menjadi “termothoter” yang akan men-generate “pemimpi” dan menggiringnya kedalam sebuah tatanan baru yang sebenarnya telah mempunyai blue-print yang rigid.

Bantaran sungai, bantaran rel dan kolong jembatan, adalah beberapa tempat yang lantas kemudian menjadi sebuah “wadah keterpaksaan” bagi para pemimpi yang datang dari sahara dengan impian menemukan air dan membawanya sebanyak mungkin. Hal ini kemudian tidak lantas dipandang sebagai sebuah permasalahan urgen dan dilakukan pendekatan yang humanis sosial. Tetapi malah menimbulkan sebuah jastifikasi oposisi biner yang berimplikasi terhadap “perebutan ruang” (battle of space). Yang mempunyai claim of belonging masing-masing.

Penulis rasa, ini merupakan salah satu PR buat arsitektur, ayo kita garap bareng-bareng. Ini jelas-jelas sarat konflik, siapa tahu ada nobel perdamaian yang dipersiapakan untuk ini???

Properti Sebuah Teori Eksposisi atau Arsitektur Sebagai Media Komunikasi?

Tulisan ini adalah sekelumit hal yang saya lihat ketika mengunjungi sebuah pameran properti di Ibu Kota, ada banyak hal yang saya lihat dan saya rasa sayang jika dibiarkan menguap begitu saja.

Pada pamaren-pameran properti saat ini, sebuah developer tidak lagi mengatakan, “lihat apa yang saya produksi, ”melainkan mengatakan “lihat, bagaimana cerdasnya saya dalam mempresentasikan apa yang saya produksi.” “Planetary society” telah menerapkan standarisiasi produksi pada suatu tingkatan, sedemikian rupa hingga untuk mempertunjukan sebuah traktor atau kapsul ruang angkasa, pembedaan image antara satu peradaban dengan peradaban lainnya tidak lagi diperlukan kehadirannya. Satu-satunya solusi yang tersisa adalah simbol. Masing-masing developer unjuk gigi dengan jalan menyajikan sesuatu, yang juga secara bersamaan telah dapat dilakukan oleh developer lainnya. Permainan prestise akhirnya akan dimenangkan oleh developer yang dapat “menuturkan” apa yang developer tersebut kerjakan, terlepas dari apa yang benar-benar developer itu kerjakan. (apakah benar-benar green yang sesuai dengan standar LEED atau hanya sebahai elemen artifasial hijau dengan menggunakan rumput yang padahal sesungguhnya dibawah lapisan tanah terdapat plastic sebagai kulit ari untuk memisahkan lapisan tanah asli dengan buatan [pot horizontal raksasa]) Apakah Arsitektur mengkonformasi cara pandang eksposisi seperti ini?

Demi memahami masalah tersebut lebih baik, kita berasumsi bahwa arsitektur (disain dan keseluruhan cara pikir) merupakan sebuah tindak komunikasi, sebuah pesan yang melanglang buana pada Pasar properti saat ini telah “dimahkotai” sebagimana yang dikatakan oleh Walter Benjamin, dengan sebuah aura keterpikatan yang mengelilinginya. “sebuah ruamah, sebuah perahu boat, sebuah mobil, sebuah televisi tidaklah dipergunakan untuk dihuni, untuk berlayar untuk berkendara, dan untuk menonton, tetapi hanya untuk dipandangi, demi benda itu sendiri.

Apakah pergerakan arsitektur yang sekarang terjadi menuju ke arah itu?

Perlukah Perahu Nabi Nuh Didatangkan Kembali

Pun sebenarnya tulisan ini merupakan sebuah perlawanan batin terhadap apa yang telah kita lakukan akhir-akhir ini. walaupun sudah sangat terlambat untuk saya posting, tapi mudah-mudahan beberapa kalimat ini bisa membangunkan kita didalam ketidaksadaran terhadap ḱesatikatan’ yang dialami sekarang ini. Mudah-mudahan kita bisa mengendapakannya dan meng-encourage kita untuk beramal sholeh terhadap lingkungan. (sebelumnya tulisan ini sudah diterbitkan disalah satu belutin dan media masa lokal).

Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika kami menghendaki niscaya kami tenggelamkan mereka, Maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) Karena rahmat yang besar dari kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

(QS. Yaasiin [36]: 41 - 44).

Allah SWT telah mengisahkan kepada manusia sejarah perahu Nabi Nuh a.s. dalam kitab-kitab suci-Nya, dari Taurat sampai Alqur’an, agar manusia memahami risalah para Rasul, bukannya menentangnya. Agar manusia senantiasa mendapatkan rahmat Allah dan bukan laknat-Nya. Allah menurunkan rahmat dan kasih sayang-Nya, agar manusia semakin bersyukur, atau segera mengoreksi dan memperbaiki diri, menggantinya dengan melaksanakan berbagai kebaikan, dan menyesalkan kejahatan yang terlanjur dikerjakan. Sayangnya, ternyata lebih banyak manusia yang kufur, dibandingkan dengan yang syukur.

Dalam sebuah film animasi yang berjudul Ice Age 2, isu global warming (pemanasan global) secara apik dan menarik diangkat sebagai core of story dalam film tersebut, dimana bongkahan-bongkahan es di antartika meleleh dan pada akhirnya daratan berubah menjadi lautan dengan seketika. Kemudian seluruh makhluk hidup berupa fauna diselamatkan hanya dengan satu buah perahu.

Secara substansial, cerita dalam film tersebut mungkin terinspirasi oleh azab yang ditimpakan oleh Allah kepada kaum Nabi Nuh. Film tersebut memvisualisasikan efek global warming yang merupakan akumulasi dari emisi gas akibat akselerasi proses industri dan cara hidup manusia yang tidak selaras dengan siklus alam, sehingga bongkahan-bongkahan es meleleh. Secara teoritis, peristiwa seperti itu sangatlah mungkin terjadi di masa mendatang, hanya tinggal menunggu waktu saja jika pemanasan global tidak diatasi.

Isu global warming dan dampaknya saat ini menjadi topik yang hangat sebagai bahan kajian dan penelitian para ilmuwan. Bahkan di Indonesia fakta yang telah didapatkan, kepulauan-kepulauan kecil di sekitar Sulawesi bagian timur, air laut telah naik dan menyebabkan abrasi sekitar ± 5 meter dari bibir pantai sebelumnya. Dan bukan tidak mungkin 30 tahun ke depan pulau ini akan tenggelam seperti yang dikisahkan dalam film Ice Age 2 tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah penyebab dari kerusakan bumi ini. Industri-industri yang didirikan dengan maksud membuka lapangan pekerjaan serta penggerak ekonomi secara tidak disadari telah menciptakan “smog dome”. Mobil dan motor yang biasa kita pergunakan sehari-hari juga telah menghasilkan polusi. Bahkan asap dari hasil pembakaran sampah rumah tangga yang biasa kita dapati di pemukiman-pemukiman, terutama bahan-bahan non-organik yang ikut terbakar, ternyata ribuan kali lebih beracun dari pada asap yang dihasilkan oleh rokok. Asap dari kegiatan-kegiatan tersebut secara umum menghasilkan CO2 yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.

Belum lagi bangunan-bangunan gedung yang dipakai dengan tidak bijaksana, yang menyebabkan sumber panas temporal dari penggunaan AC dan heater, ternyata menghamburkan energi yang juga memberikan kontribusi terhadap pemanasan global sebesar ± 30 %.

Pertambahan penduduk yang sangat pesat serta industrialisasi yang selalu erat kaitannya dengan modernisasi telah membuat kerusakan bumi lebih cepat. Alih-alih dengan alasan pembangunan, yang terjadi sebenarnya adalah perusakan terhadap ekosistem alam secara makro. Maka, tidak mengherankan ketika kita yang meng-klaim diri sebagai manusia yang berperadaban modern akan menuai bencana dari sesuatu yang sadar atau tidak telah kita tanam. Dalam konteks ini sebenarnya jauh sebelum peradaban modern muncul, Allah telah mewanti-wanti manusia tentang kerusakan alam dalam Alqur’an surat Ar-Ruum [30] ayat 41:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Manusia modern – kita semua ini – harus segera sadar akan kerusakan yang telah terjadi, karena secara tidak sadar kita adalah penyebab kerusakan yang paling ganas dibandingkan dengan kaum-kaum atau peradaban-peradaban sebelumnya. Jika kita sadar, perilaku kita sebenarnya telah melanggar larangan Allah terhadap perusakan alam. Karena dinyatakan dalam Alqur’an bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan:

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash [28]: 77).

Dalam cara pandang ini, kita sebagai manusia modern tidak bisa sepenuhnya menolak modernisasi, karena modernisasi adalah sebuah fase dan siklus yang alami. Faktor utama kerusakan lingkungan adalah pada manusianya, termasuk kita semua. Kita boleh mengampanyekan perlindungan terhadap lingkungan dan kita juga bebas mencela negara-negara industri yang menjadi penyumbang terbesar emisi penyebab pemanasan global, tetapi kita juga harus melihat diri kita, bahwa kita juga menjadi aktor penyumbang kerusakan lingkungan. Pemborosan energi yang kita lakukan, asap yang keluar dari motor/ mobil kita, dst. Maka dari itu, kita harus memulai dari diri sendiri, sudahkah perilaku kita bersahabat dengan lingkungan hidup atau sebaliknya, sudahkah kita menjaga kebersihan lingkungan kita atau sebaliknya, dst.

Paparan diatas adalah sekelumit gambaran perilaku kita sehari-hari yang sangat jarang kita perhatikan atau kita pedulikan. Bahwa sebenarnya perilaku kita itu sangat berimplikasi negatif terhadap lingkungan, yang ternyata juga berimplikasi langsung pada lingkungan global. Berbagai bencana alam yang membawa banyak korban adalah kiamat-kiamat kecil, agar kita dapat bermuhasabah dan mempersiapkan kehidupan secara lebih baik di masa mendatang untuk kemaslahatan bersama. Sehingga dengan demikian, Allah SWT tidak perlu mendatangkan lagi perahu Nuh yang kedua.

Wallahu a’lam

Inkorporasi Aktifitas

Paling sering pada setiap proses perancangan atau ‘memproduksi’ sebuah ruang (space), seorang arsitek atau perancang akan memeberikan sebuah penamaan (labeling) terhadap ruang tersebut. Dan seperti yang telah kita ketahui ruang tersebut nantinya sudah diproyeksikan penggunaannya oleh label atau nama ruang tersebut. Atau mungkin pada tingkat yang lebih makro arsitek akan melakukan sebuah proses pembagian area atau lebih umum disebut dengan pen-zoning-an, yang secara substansial sebenarnya telah melakukan ‘atomisasi’ wilayah dan menciptakan segregasi terhadap ruang-ruang yang akan dihasilkan.

Manifestasi dari pemisahan ruangan itu oleh para arsitek lantas diejawantahkan melalui garis ganda yang diberi arsiran bersudut empat puluh lima derajat dan telah diasosiasikan menjadi sebuah simbol untuk mempresentasikan dinding. Sedangkan dalam tataran makro garis biasanya dimanifestasikan melalui pagar atau lainnya. Dalam konteks ini dinding dan pagar diposisikan sebagai sebuah alat yang dipergunakan untuk memisahkan ruang satu dengan yang ruang lainnya. Namun elemen garis yang diciptakan pada kenyataannya menghubungkan dua ruang baik ruang dalam dengan ruang luar pada sebuah gubahan masa atau sebuah tempat dengan tempat yang lainnya pada sebuah perancangan kawasan.

Implikasi yang dihasilkan dari proses ‘pemisahan’ ruang akan semakin kuat dirasakan ketika yang menjadi subjek perancangan merupakan sebuah perencanaan tapak atau kawasan. Karena sudah menjadi hal yang lazim bagi seorang arsitek ketika akan merencanakan sebuah tapak telah membatasinya dirinya dengan batas-batas pada sertifikat kepemilikan yang menjadi teritorinya. Dalam perancangan seperti ini, perancangan tapak menjadi sangat mekanistik karena hanya menjadi alat kelengkapan dari proses perancangan didalam teritorinya sendiri. Sehingga elemen garis yang diciptakan yang secara visual langsung berhubungan pada gambar telah memotong-motong lansekap menjadi sebuah area atau teritori yang saling asing satu sama lain (placelessnes).

Namun jika kita melihat bahwa tapak merupakan jejaring dari sebuah ruang, maka perancangan yang membatasi hanya pada teritorinya akan menjadi sangat problematik. Tapak adalah sebuah ruang hasil jejaring infrastruktur, mulai jalan, listrik, hingga telepon. Dan lebih penting lagi bahwa tapak adalah sebuah jejaring sosial. Sehingga dalam cara pandang ini, tapak sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan jejaring sekitarnya. Karena secara esensial tapak merupakan sebuah ‘ruang’ yang sebenarnya merupakan sebuah pencerminan dari kehidupan berdasarkan pada hubungan manusia dengan sesamanya. Lebih jauh lagi, tapak merupakan sebuah bentuk organisasi sosial dan politis yang memudahkan warganya untuk mengembangkan potensi dan hidup bersama sesuai dengan nilai kemanusian (Plato, 2000) sehingga dapat terlihat bahwa terdapat dua elemen yang sangat berpengaruh dalam pencapaian inkorporasi yaitu manusia atau pengguna dan ruang.

Inkorporasi dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai proses penggabungan atau peleburan terhadap sesuatu untuk menjadikannya lebih baru dan adekuat. Dalam cara pandang keruangan, inkorporasi aktifitas merupakan sebuah respon terhadap embrio varian aktifitas yang telah ada dan menjadi seting eksisting masayrakat yang benar-benar nyata dilaksanakan dan bukan pada sebuah rekayasa yang seharusnya diada-adakan (Wigglessworth and Till 1998 ).

Pada waktu yang bersamaan, modernisasi dengan segala budaya urbannya secara langsung telah meniscayakan peng-inkorporasi-an sebagai respon dari kemajemukan masyarakatnya itu sendiri. Persilangan dan persenyawaan aktifitas selalu menarik untuk dilihat terkait dengan bergesernya modus individu masyarakat yang hingar-bingar tampil dalam ‘etalase kota’ sebagai hasil dari proyeksi modernisasi.

Walau bagaimanapun, ruangan meruapakan sebuah jiwa (soul) dari lingkungan terbangun karena ia adalah penanda sekaligus karakter dari lingkungan terbangun tersebut, sebagai cirri yang tidak dimiliki oleh ruang-ruang lainnya.

Inkorporasi aktifitas dalam cara pandang ini, paling tidak dapat didasarkan pada dua buah ekspektasi. 1) Terciptanya suatu bentuk kualitas kehidupan ‘meruang’ yang positif, 2) Inkorporasi ruang menjadi parameter kedinamisan dalam kualitas jejaring interaksi sosialnya.

Derivasi inkorporasi aktifitas terhadap kehidupan meruang adalah meminimalisasi aturan-aturan yang terbentuk karena kebiasaan dan akhirnya menjadi pola yang berlaku terhadap sebuah ruang yang membuat keterasingan. dalam konsepsi ini, ‘kebiasaan’ menjadi sebuah nilai untuk mengatur konsumsi atau perilaku. Sehingga kebiasaan seseorang tidak dipaksakan untuk orang lain yang pastinya juga mempunyai keunikan tersendiri. dan dapat diasumsikan bahwa akan terjadi ketidak-sesuaian yang menimbulkan reaksi yang sangat beragammulai dari kesalahfahaman, ketidak nyamanan bahkan sampai pada area konfliktual yang tidak terbanyangkan sebelumnya.

Based Problem in Discourse Regional Backgorund

Kajian Lokus

Kerja? Dengan Apa? Di mana Cangkul? Amblas. Kerja buat anak dan istri? Bukankah semua itu sudah terseret pula seperti perkakas yang lain, amblas bak tanah garapannya, seperti rumah-rumah mereka, seperti panen mereka?”

Eduard Douwes Dekker (Multatuli)

Banten memang kaya, secara geografis Banten yang secara langsung berbatasan dengan ibu kota Jakarta dapat secara langsung mengakses permodalan, teknologi, informasi maupun sumber daya manusia (SDM) yang handal sekalipun. Pun disadari Banten juga menjadi koneksi antar dua kekuatan ekonomi terbesar bangsa Indonesia, yaitu Jawa dan Sumatera.

Kemasyuran Banten dibidang perniagaan tidak hanya menembus batas geografis Nusantara, melainkan hingga ke Eropa dan Afrika. Para pedagang mancanegara mulai dari daratan China hingga Portugis dan Inggris menembus luasnya samudera untuk melakukan transaksi dengan para saudagar Banten dimasa lalu. sebahagian peninggalan dan proses interaksi masyarakat Banten dengan dunia luar masih bisa ditemukan, dan bisa menjadi pendorong untuk memotivasi penghargaan terhadap masa lalu.

Sumber daya alam Banten pun melimpah ruah, bentangan perkebunan dan lahan luas, baik hutan lindung maupun hutan konservasi atau hutan produksi sekalipun. Belum lagi kekayaan biota laut yang dimilikinya. Menurut beberapa penelitian geologi, dibawah permukaan daratan Banten juga terdapat beraneka ragam kekayaan galian. Geothermal, emas, batubara, nitrat, fodfat, halit (batu garam), zeolit, tawas, kaolin, pasir kwarsa, feldspar, gipsum, bentonit, dolomite kalsit, oker, granit, andesit, basalt, trakit, trass, perlit, marmer, dan jenis-jenis lainnya.

Potensi parawisatapun tersedia, hotel-hotel yang membentang sejak pantai Anyer hingga Tanjunglesung, yang nyata-nyata sudah tidak menyisakan ruang bebas untuk rekreasi untuk ‘orang kebanyakan’.

Rakyat Banten tidak pernah diajak untuk melakukan rekonsiliasi terhadap solusi-solusi yang dilakukan oleh para pemilik modal. Sehingga seakan-akan Banten hanya dianggap sekedar sebuah peta yang terhampar diatas meja dan bebas di ‘corat-coret’ dan dikavling-kavling. Dianggap tidak ada manusia didalamnya, apalagi jejaring konstelasi sosial, kalaupun ada tidak lebih hanya dianggap sebagai jumlah belaka.

Secara kultural rakyat Banten pada dasarnya berkarakteristik egalitan dan agamis, yang merupakan sebuah potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah daerah demokratis – masyarakat yang mampu menegakan prinsip-prinsip demokrasi.

Implikasi Proses Industrialisasi Terhadap Marginalisasi Rakyat

Proses industrialisasi yang erat kaitannya dengan pembebasan lahan ternyata sarat mengandung unsur konflik didalamnya, secara umum masyarakat ‘dipaksa’ untuk direlokasi. Sedikitnya untuk mendirikan sebuah pabrik (PT. Kratau Steel. Tbk.) lebih dari sepuluh kampung ‘hilang’ dari peta. Hal ini secara langsung menggangu kedamaian hati warga Banten. Manakala diketahui bahwa upaya ganti rugi yang akan dilakukan jauh dari ekspekatsi awal masyarakat. Dimana pemilik lahan dipaksa untuk menerima ganti rugi Rp. 100 – 200 per meter perseginya.
Kegelisahan tersebut semakin meluas, ada sebahagian masyarakat yang dengan segala daya-upaya yang dimiliki berusaha untuk mempertahankan haknya. Adapula yang secara jelas-jelas sibuk untuk menghadirkan atmosfir persuasif terhadap warga untuk melepas tanahnya, dan yang lainnya pasrah menunggu nasib.
Bak banjir bandang yang membabad apa saja yang ada dihadapannya, pembebasan lahan berlangsung sangat intensif. Dengan rayuan dan iming-iming yang pada akhirnya jengkal demi jengkal lahan rakyat berpindah tangan ke pemilik modal.
Masa-masa pembebasan lahan lebih tepat jika disebut sebagai ‘pengusiran’ rakyat dari akar kehiduapannya, merupakan saat-saat isak tangis. Ada iming-iming, intrik, terror dan represi yang setiap saat mengganggu ketenagan hidup. Dan ketika pada akhirnya tanah-tanah tersebut kemudian terlepas dari tangan-tangan rakyat, trauma yang ditinggalkannya mungkin saja tersisa hingga jiwa.
Hilangnya kepemilikan lahan bagi rakyat secara langsung telah mengjilangkan modal utama ekonomi mereka. Sementara pemilikan uang secara tiba-tiba oleh rakyat dari hasil ‘pelepasan’ lahan dengan tanpa ada kesiapan dalam memperdayagunakannya telah terbukti tidak berdampak pada tingkat perbaikan tingkat kesejahteraan. Bahkan sebaliknya, keberadaan uang secara tiba-tiba menjadi awal dari awal dari rangkaian kesengsaraan.

Banten yang secara historis pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan dalam bidang perekonomian dan kebudayaan pada abab ke-16, yang telah mampu berdiri tegak diantara bangsa-bangsa yang lain, wajahnya kemudian tertunduk lesu pada beberapa abad kemudian.

Tetapi kini, pad awal abad ke-21, Banten memang telah begitu jauh berkembang. Hampir dari segala macam signifikasi kebudayaan modern sudah tersedia. Pusat-pusat perbelanjaan seperti mall, supermall bahkan hypermall, serta sarana rekreasi dan kebugaran (fitness centre) bertaraf tinggi bertebaran. Mau bersenang-senang di hotel berbintang, tinggal tunjuk. Mau menyekolahkan anak ke sekolah standar internasional dengan biaya hitungan dolar juga tersedia.

Pabrik-pabrik yang terdapat mulai dari Tanggeranng, Tigaraksa, Cikande, Serang hingga ke Cilegon didirikan dengan menggunakan investasi besar hingga kelas rumahan, industri padat modal hingga padat karya atau industri berat hingga industri ringan berdiri tegak. tetapi, kenyataan bahwa Banten beserta rakyat Banten masih terbelakang, tertinggal diantara daerah-daerah lain, tidak dapat disangkal dan dipungkiri oleh siapa pun. bahwa keberadaan lapangan golf, fitness centre, diskotik, jalan tol, supermall, bandara internasional, atau indrustri modern yang menghabiskan investasi trilyunan rupiah hanya merupakan satu sisi dari sebuah mata uang logam. yang pada sisi lainnya terbentang kemiskinan, “slum”, kebodohan, ketertinggalan, keterpencilan dan keterasingan (solitude).

Rumah-rumah reyot dan lingkungan kumuh berbaur di bibir pagar Bandar Udara Internasioanl Soekarno-Hatta yang panjangnya berkilo-kilometer, merupakan sebuah potret kontras kehidupan antara mereka yang berada di “dalam pagar” dan mereka yang hidup di “luar pagar”, antara yang menaiki pesawat dan melihat diatasnya dengan yang melihat pesawat dan yang dilihatinya.

Pengembangan Provinsi Banten sebagai daerah industri, pelabuhan dan kawasan pariwisata telah memicu pertumbuhan yang sangat pesat di kota Cilegon dan Tanggerang. Pun disadari, pertumbuhan tersebut selain membawa pertumbuhan positif juga telah membawa pertumbuhan negatif yang apabila tidak dikelola dengan baik akan memicu munculnya konflik-konflik baik spasial maupun lingkungan.

Isyu privatisasi yang baru-baru ini ramai diberitakan di media masa terhadap salah satu industri di Cilegon ternyata tidak menjadikan masyarakat Cilegon keberatan, masyarakat dalam hal ini seakan-akan tidak memiliki sense of belonging dan membirakan isu tersebut menguap begitu saja. Tetapi ada salah satu hal urgen yang dianggap oleh masyarakat harus segera diselesaikan sebelum proses privatisasi tersebut terjadi. Yaitu upaya rekonsialisasi lahan yang sampai saat ini belum selasai dan hampir sudah ‘berkerak’.

Sakralitas Superman Bukan Sekedar Fashion

Tulisan ini adalah hasil “iseng-iseng” libur akhir pekan kemarin yang merupakan sebuah kulminasi psikologi setelah melewati kepenatan diskursu untuk Tugas Akhir yang entah-berantah dan centang-perentang dengan menyalurkannya melalui sebuah “kegiatatan iseng” melalui menonton film “Za-Dul.”

TAHUN 1983, berasal dari Smallville, sebuah “kota” yang divisualisasikan secara apik sehingga tercermin sebuah “image” kota yang menyenangkan. Clark Kent alias Superman tiba disebuah kota metropolis; sejak saat itu pula semua orang mengetahui segala tentang dirinya. bahkan dimasa yang sangat jauh dari bau kapitalisme yang Hi-Tech, pada saat bersamaan di Chicago, ketika para akademisi tengah disibukkan dalam proses menghimpun International Encyclopedia of United Science dan menyadari makna dari kemampuan para filsuf metafisika, tidak ada satu orangpun yang menjadikan Superman sebagai sebuah “misteri” yang nista dan muskil untuk diperbincangkan dalam sebuah seminar atau diskusi ilmiah.

Kemampuan si “bocah” yang bisa terbang bak pesawat dengan kecepatan jet dan mengangkat kapal layaknya sebuah ranting, amat sangat niscaya dapat dijelaskan secara ilmiah dan dituangkan dalam sebuah teori. tetapi disisi lain bahwa Ia (Superman) berasal dari Batu Krypton, yang sebagaimana telah kita ketahui bersama, memiliki perbedaan gaya gravitasi yang sangat besar dengan bumi, sehingga wajar baginya untuk memiliki kekuatan super dan bisa terbang. bahkan ingatannya yang luar biasa diturunkan dari fakta yang diceritakan—sekali lagi, berkat gravitasi—bahwa dalam dirinya tumbuh kepribadian untuk membaca dalam proses yang sangat cepat, lebih dibandingkan dengan anak-anak seusianya ketika itu, yang seharusnya hal tersebut baru dianjurkan di Universitas. (terbuka kemungkinan dimasa sekarangpun ada sebagaian orang yang baru akan memaca ketika “dipaksa“ atau dibenturkan dengan momentum ujian atau untuk ground penulisan teoritikal Tugas Akhir supaya lebih terkesan adekuat dan berbobot)

Tidak ada yang mistik tentang sejarah Superman, karena ia adalah sebuah cerita fiksi yang dibungkus dan dibubuhi oleh sesuatu yang terkesan ilmiah (very scientific). Film Superman merupakan sesuatu yang sangat berbeda. pertama, bukan merupakan sebuah kebetulan bahwa ia harus memiliki seorang ayah yang memiliki kesulitan psikologis, yang ceritanya kurang lebih hampir memakan tempat separuh dari film, atau ayahnya harus mencangkokkan misi kedatangannya kebumi kepada si anak, sebuah pengetahuan yang tidak kita ketahui, yang di konkretkan dalam sebuah benda dengan nama stalagmit intan, sebuah material sebagai simbolisme atas segala sesuatu yang dapat dibayangkan apalagi dijelaskan secara teoritikal. atau ia harus memberi anaknya sebuah khotbah mirip seorang pendeta yang menuntut orang yang hendak menjemput ajal, kemudian meletakannya kedalam sebuah peasawat ruang angkasa berbentuk buaian, yang menjadi navigator otomatis melawati ruang angkasa layaknya “Komet Magi.”

Jadi clark Kent akan tiba di Bumi demi memenuhi harapan generasi yang mempunyai selara tinggi pada Silmarillion karya Tolkien, dan mengejawantahkan suatu teogoni yang mengharuskan mereka untuk menghafalkan putra-putri Ilúvatar, Quendi, Atani dan padang rumput berbunga dari Valinor dan Melkor yang terbuncah; karena apabila mengharuskan mempelajari hal-hal tersebut secara formal disekolah, dalam waktu yang bersamaan itu akan menggerakkan generasi yang sama untuk “mengambil paksa” gedung universitas atau sekolah menengah dalam prosesnya menentang nationisme.

Maka, reinkarnasi Superman tampaknya merupakan sebuah versi pop dari fenomena yang lebih kompleks dan sangat besar, yang pada akhirnya menyingkapkan suatu trend: kembali kepada sebuah pemikiran religius…

Packaged by Edublogs - education blogs.